Sabtu, 08 Oktober 2011

Di Bawah Mizab Ka’bah


08.30 | ,


Seorang ulama Tabi’in Imam Thawus Al-Yamani mengisahkan, “Aku melihat seorang lelaki sholat di Masjidil Haram di bawah mizab Ka’bah. Ia berdoa dengan khusyuk dan menangis. Aku ikuti sampai ia selesai sholat dan berdoa, ternyata ia adalah Ali Zainal Abidin, putra Husein bin Ali bin Abi Thalib, yang tak lain adalah cicit Rasulullah SAW. Aku katakan padanya:
“Wahai cicit Rasulullah, aku lihat kamu dalam keadaan begini dan begini (ibadahnya). Padahal kamu memiliki tiga hal yang aku harap akan membuatmu aman dari ketakutan. Pertama, kamu adalah cicit Rasulullah SAW. Kedua, kamu bisa mendapatkan syafaat kakekmu yaitu Rasulullah SAW. Ketiga, rahmat Allah SWT.”

Ali Zainal Abidin menjawab: “Hai Thawus, bahwa aku adalah cicit dan keturun Rasulullah SAW. Itu tidak menjamin keamananku. Aku mendengar firman Allah SWT: Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab diantara mereka pada hari itu (QS. 23:10).
Sedangkan syafaat kakekku juga tidak menjadi jaminan bahwa kelak akan kudapatkan, sebab Allah SWT berfirman: Dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang-orang yang diridhai Allah (QS 21:28).
Sedangkan rahmat Allah, sesungguhnya Allah mewahyukan bahwa rahmatNya dekat pada kaum muhsinin, yaitu orang2 yg berbuat kebajikan. Dan aku tidak tahu apakah aku termasuk mereka apa tidak.”
***


You Might Also Like :


3 komentar:

Walet mengatakan...

Marilah bersama-sama mempertebal iman kita.

slem354 mengatakan...

Seandainya kita beribadah 1000tahun tanpa maksiat...pun...dengan amalan itu qt mengharapkan surga Allah tidak akan cukup memperolehnya....kecuali dengan rahmatNyalah kita mendapatkan surga Allah...

syah roni mengatakan...

pelajaran bagi kita :
1. Allah tidak memandang nasabmu, pangkat(jabatan), kekayaanmu, ataupun keindahan suaramu, dan tubuh mu, Allah hanya memandang Taqwamu
2. Orang yang dimuliakan disisi Allah hanyalah bagi yang bertaqwa dihatinya.
3. seseorang disaat Makhsyar kelak hanyalah bisa membela dirinya dengan dengan perbuatan amal shalehnya saja, tidak karena ia seorang keturunan nabi atau keturunan ulama.
4. sangat takabbur bagi mereka menganggap dirinya keturunan nabi dapat pembelaan atau syafaat pada hari qiamat kelak .
5. bacalah surat AlBaqoroh 48 dan 123, tentang tidak ada pembelaan atau syafaat dan ditolak semua permohonan mereka saat persidangan hisab kelak
jadi siapapun tidak ada jaminan selamat dari api neraka kecuali dengan taqwanya saja.

Posting Komentar